Rabu, 04 November 2009

Christian Handoko


PALING BAHAGIA

Christian Handoko barangkali merupakan orang yang paling bahagia saat peresmian Gua Maria Regina Rosarii (31/10/09). Disaksikan Mgr. Johanes Pujasumarta Pr serta umat yang hadir, Chris mendapat kalungan bunga khusus dari pastor paroki. Leonardus Bambang Pr, pastor paroki Bunda Maria, Cirebon, mengatakan bahwa Chris telah bekerja keras demi terwujudnya komplek Taman Doa. Hal senada disampaikan juga oleh Leo Budiarto, penggagas berdirinya Gua Maria.

Chris memang orang yang amat berperan dalam terwujudnya Gua Maria baru di Cirebon. Dialah yang merancang sekaligus mengikuti perkembangan pembangunan kompleks tersebut. Gua Maria yang berlokasi tepat di belakang gereja paroki Bunda Maria ini, dirancang Chris selama dua minggu. Chris, yang pernah merancang pelbagai bangunan ini merasa lega. “Ada kepuasan tersendiri merancang kompleks Gua Maria dibanding merancang bangunan lain”, aku Chris. Salah satu hal yang membuat arsitek lulusan Unpar ini senang, adalah adanya dukungan serta antusiasme umat yang amat besar. “Dukungan, termasuk dalam pendanaan, tidak hanya dari paroki kami saja, tapi juga dari banyak paroki lain”, tutur Chris.

Bagi Chris, kelahiran Cirebon (18/12/82), keterlibatannya di dalam lingkungan gereja bukanlah hal yang baru. Sejak masih remaja ia sudah menjadi organis di parokinya. Ia memang pandai bermain organ, juga biola. Saat kuliah di Bandung, Chris bergabung dengan grup orkes Light the World Orchestra pimpinan Iryanto dan Laurentius Chamber Orchestra. Masih soal musik, saat kuliah pula Chris bergabung dengan St. Lucia Choir untuk pelayanan di gereja bersama teman-teman kampus. Nampaknya bakat Chris di bidang arsitek dan seni tidak ingin ia nikmati sendiri melainkan ia abdikan juga demi Gereja kesayangannya.

Heri Kartono.

Selasa, 27 Oktober 2009

Danny Karjo


MEMBANGUN RELASI INTIM

Saat Adorasi Ekaristi Abadi (Adeka) baru pertama kali diadakan di Keuskupan Bandung, Danny Karjo adalah salah seorang yang ikut sibuk. Sejak persiapan, pelaksanaan hingga pengaturan jadwal, Danny terlibat aktif. “Saya merasa gembira dan antusias karena akhirnya Adeka hadir juga di keuskupan ini, bahkan di Pandu, parokiku sendiri”, ujar pria kelahiran Jerman ini bersemangat.

Danny yang dibaptis sejak usia 11 tahun mengaku senang berdoa di hadapan Sakramen Maha Kudus. Ia kerap bertugas ke luar kota. Kemanapun ia pergi, biasanya ia menyempatkan diri berkunjung ke tempat Adeka. Salah satu tempat yang kerap dikunjunginya adalah Gua Maria Kerep Ambarawa. “Saya ingin membangun relasi intim dengan Allah”, tutur Danny memberi alasan. Menurutnya, saat adorasi adalah kesempatan untuk bertemu, berbicara, melepaskan masalah serta mendengarkan Tuhan secara pribadi. Lelaki berwajah Indo ini juga mengaku mengalami kelegaan serta kedamaian setiap kali melakukan Adeka. Lebih lanjut suami dari Anita ini menjelaskan bahwa menghadiri ekaristi dan menyambut tubuh Kristus seminggu sekali tidaklah cukup. “Karena itu, adeka menjadi pelengkap sempurna kehadiran kita dalam ekaristi mingguan”, jelas Danny bernada promosi.

Semangat Danny makin bertambah saat melihat banyaknya umat yang berminat untuk melakukan adorasi. “Sampai saat ini, sudah 619 orang yang mendaftar untuk berjaga-jaga. Dari jumlah itu, tidak sedikit yang rela berjaga tengah malam”, ujar Danny dengan gembira. Besarnya animo umat, di mata Danny, mencerminkan kerinduan umat untuk bertemu dengan Allah secara pribadi. Sebenarnya ikut aktif dalam kegiatan gereja, khususnya dalam adeka, menyita cukup banyak waktunya. Kendati demikian, Danny melaksanakannya dengan riang gembira. Ia sadar, jerih payahnya tidak akan sia-sia karena dirasakan oleh banyak orang yang haus akan pertemuan dengan Allah secara intim.

Heri Kartono (dimuat di majalah HIDUP edisi 8 Nopember 2009).

Selasa, 20 Oktober 2009

Bedanya Cirebon dengan Roma


AFTER SHAVE

Saat di Roma, saya biasa menggunakan aftershave, dioles sesudah cukur jenggot dan kumis pagi hari. Aftershave ini terasa enak dan segar di kulit. Aftershave mengandung antiseptic untuk mencegah infeksi akibat luka tergores alat cukur. Aftershave biasanya dicampur dengan parfum dan pelembut kulit sebagai daya tarik tambahan. Aftershave bisa berupa cairan, gel, bubuk atau sejenis balsem. Saya terbiasa menggunakan aftershave jenis liquid, harumnya nempel terus. Maklum, karena dioles persis di bawah hidung.

Hampir semua rumah mode ternama mengeluarkan produk aftershave. Tentu saja harganya amat melambung tinggi. Tapi mencari aftershave dengan harga manusiawi juga banyak, tergantung kemampuan dan selera kita. Di Roma, aftershave bisa ditemukan di sembarang toko, bahkan Tabacchi (warung rokok) juga menjual aftershave.

Cirebon rupanya tidak sama dengan Roma. Sudah tiga hari ini saya mencari-cari aftershave dengan hasil nihil. Pertama, saya pergi ke Yogya Depstore langganan saya di jalan Siliwangi. Saya mencari-cari sampai sembilan menit, tidak saya temukan. Akhirnya saya bertanya pada salah seorang SPG: “Mbak, bisa bantu? Saya perlu aftershave!”. Tadinya saya mengira si mbak yang manis ini akan menjawab: “Yang merek apa pak?!”. Ternyata tidak. Dia malah balik bertanya: “Apa itu pak?”. Dengan sabar saya jelaskan tentang aftershave dan dia tetap tidak mengerti. Kemudian si mbak memanggil SPG lain, juga tidak mengerti. Petugas ketiga datang. Sesudah dijelaskan, dengan mantap dia pergi untuk mengambil “aftershave”. Ternyata yang dibawa adalah sejenis busa yang dioles sebelum cukur. Akhirnya datanglah sang supervisor. Ternyata sang supervisor juga tidak mengerti apa itu aftershave!

Pengalaman di Yogya Depstore, terjadi juga di toko-toko lainnya. Banyak toko tidak tahu dan tidak menjual aftershave. Pada hari ketiga, atas saran seorang kenalan, saya pergi ke jalan Pekiringan. Di sini ada sebuah toko parfum/kosmetik besar dan serba lengkap. Saat saya memasuki toko, lima orang gadis menyongsong saya. Mereka bertanya nyaris serentak: “Perlu apa pak??”. Saat saya menyebut kata aftershave, kelima gadis ini saling berpandangan dengan wajah oon. Rupanya toko kosmetik besarpun tidak mengenal aftershave……

Sampai hari ini saya belum menemukan aftershave. Tapi untung, di dapur masih ada persediaan minyak goreng kualitas nomor satu!

Heri Kartono.

Senin, 05 Oktober 2009

Di Cirebon


BEBAS LIMA

Bertugas di Cirebon memang berbeda dengan di Roma, Italia. Suasana, bahasa, makanan dan pola kerja juga lain sekali. Sejak Jumat (02/10/09) saya mulai bertugas di paroki Santo Yusuf, Cirebon dan saya menikmatinya.

Atas beberapa pertimbangan, saya memilih sepeda sebagai alat transportasi. Saya membeli sepeda ditemani Santi, istrinya Kardjono, mantan frater OSC. Papanya Santi mempunyai bengkel dan toko onderdil sepeda di jalan Lemahwungkuk. Karenanya, Santi tahu betul seluk-beluk sepeda, termasuk harga sepeda. Berkat Santi pula saya mendapat sepeda bagus dengan harga miring.

Hari Senin (05/10) saya mulai mencoba sepeda baru. Saya berangkat dari pastoran di Jalan Yos Sudarso 20 menuju jalan Pancuran, rumah kakak perempuan saya. Sesudah lama tidak naik sepeda, rasanya senang sekali. Saya langsung menyadari, betapa naik sepeda itu bebas polusi. Tidak ada asap busuk yang dikeluarkan, kecuali sekali-kali dari pengendaranya.

Di jalan Karanggetas ternyata jalan satu arah. Kalau saya mengambil jalan yang seharusnya, saya akan berputar lumayan jauh. Dengan sedikit nekad, saya masuk jalan Karanggetas, melawan arus. Polisi yang berdiri di gardu perempatan jalan nampaknya tidak peduli, bahkan melirik-pun tidak. Rupanya sepeda dianggap bebas rambu-rambu lalu-lintas.

Di jalan Siliwangi, saya mampir di Jogya Supermarket, membeli beberapa alat tulis. Tukang parkir, yang melihat saya masuk membawa sepeda, sedikitpun tidak memperdulikan. Ketika saya dengan tenang menaruh sepeda di antara deretan motor, barulah tukang parkir datang. Dengan sedikit kurang senang, tukang parkir menunjuk sudut tembok. Sayapun nurut, memarkir sepeda di tempat yang paling pojok. Selesai belanja, saya sudah menyiapkan uang parkir. Namun, tukang parkir sama sekali tidak menggubris. Rupanya untuk sepeda bebas parkir!

Sesudah puas berkeliling, sayapun kembali ke pastoran. Kemudian saya menyadari bahwa selama sekitar dua jam, saya tidak mengeluarkan uang satu sen-pun untuk transportasi. Sepeda memang bebas bahan bakar.

Menurut kabar burung, kalau kita rajin dan teratur bersepeda, kita juga akan bebas kolesterol. Meski ini belum dibuktikan, sekurangnya sudah menambah semangat saya untuk terus bersepeda.

Belum ada akibat negatif dari naik sepeda yang saya rasakan selain pantat sedikit lecet. Satu-satunya perubahan adalah porsi makan saya. Sejak naik sepeda, porsi makan saya bertambah satu piring!

Heri Kartono.

Minggu, 27 September 2009

Veronica D.



DIPERTEMUKAN BURUNG-BURUNG

Salah satu tugas sampingan di Roma adalah mengantar tamu, khususnya dari Indonesia. Kedatangan tamu kerap kali memberi kesegaran tersendiri.

Tamu terakhir yang datang adalah Veronica atau biasa dipanggil Veron. Wanita yang mengaku mirip Dewi Sandra ini seorang Sarjana Hukum, lulusan Undip. Ia bekerja di Bank BCA. Ia kerap berceritera tentang pekerjaannya dengan antusias. Veron memang menyukai pekerjaannya dan orang-orang yang bekerja dengannya. Ia selalu datang ke tempat kerja lebih awal dan pulang melebihi jadwal resmi. Kecintaan serta loyalitasnya pada perusahaan pantas diacungi jempol.

Selama dua minggu, Veron berkeliling Italia: Roma, Milano, Florence, Venice, Assisi, Pavia, Vignanello, Foligno dan Fara Sabina. Selama dua minggu itu ia menikmati perjalanan dengan kereta super cepat seperti Euro Star, tapi juga dengan Kereta Lokal, Bus Kota, Trem dan Metro (Kereta Bawah Tanah). “Saya senang sekali bisa mencoba banyak hal”, tuturnya polos.

Saat berada di lapangan Santo Petrus, Vatikan, ia amat gembira. Pasalnya, burung-burung merpati datang berbondong-bondong mengerubutinya tanpa sedikitpun rasa takut. Ada yang hinggap di tangan, pundak bahkan kepala. Sebagian besar berebut beras yang ditaburkan-nya. Ia memang membawa beras yang disiapkan dari tempatnya menginap. Pengalaman ini tak pernah ia jumpai di Indonesia, apalagi di Bojongloa, kampung halamannya.

Beberapa turis datang dan ikut memotretnya. Sebagian lagi malah meminta beras dan ikut bergabung bersama burung-burung. Sesudah beberapa saat, Veron dan turis-turis itupun saling bertegur-sapa. Rupanya mereka adalah orang-orang Yahudi dari Israel. Saat berkenalan, Veron tak bisa menyembunyikan kekagetannya: “Israel?”, teriaknya spontan. Seumur-umur ia tak pernah bermimpi akan berjumpa orang Yahudi, selain dalam Injil. Rupanya yang terkejut tidak hanya Veron tapi juga para turis itu. Dengan teriakan yang sama kerasnya, mereka berseru: “Indonesia?”. Bagi mereka, nama Indonesia identik dengan teroris atau sekurangnya bangsa yang amat anti Yahudi, bukan perempuan manis yang ramah. Sesudahnya mereka saling bersalaman hangat sambil tertawa-tawa. Mereka tertawa-tawa bukan karena obrolan lucu atau menarik, melainkan karena mereka tidak saling mengerti satu sama lain. Maklum, Veron hanya mahir berbahasa Sunda, selain bahasa Indonesia.

Yang jelas, burung-burung merpati telah mempertemukan orang Indonesia dan Yahudi secara damai di pelataran Santo Petrus…….

Heri Kartono. (dimuat di majalah KOMUNIKASI edisi Nopember 2009).

Minggu, 20 September 2009

Marina Bianchin


ISTRI ISTIMEWA

Saya mengenal Marina dan Mirko pada bulan Juli 1987 atau lebih duapuluh tahun yang lalu. Saat itu saya bekerja selama satu bulan di RSU Bassano del Grappa, Italia Utara. Mereka juga bekerja di Rumah Sakit yang sama: Marina sebagai perawat sementara Mirko pengemudi Ambulans. Mereka masih pacaran.

Tanggal 3 Oktober 1987, Marina menikah dengan Mirko. Sesudahnya mereka berbulan madu ke Indonesia. Sebenarnya mereka tergolong nekad karena keduanya tidak mengerti bahasa lain kecuali Italia. Marina masih lumayan, sedikit mengerti bahasa Inggris meski terpatah-patah. Selama satu bulan penuh, mereka berkeliling Jawa, Bali dan Sulawesi. Tak ketinggalan, mereka juga sengaja mampir ke Brebes, menengok orang tua saya.

Ada dua pengalaman yang mengesankan. Pertama adalah saat mereka naik pesawat dari Denpasar ke Ujung Pandang. Pada waktu boarding, Mirko melihat pintu cockpit terbuka lebar. Mirko berdiri di depan pintu selama beberapa saat. Ia memandang dengan kagum peralatan yang begitu rumit. Pilot dan co-pilot terlihat sedang bersiap-siap, mengecek peralatan satu demi satu.

Sesudah take-off beberapa menit, seorang pramugari mendekati Mirko. Pramugari berusaha menjelaskan sesuatu namun Mirko tidak mengerti. Marinapun mencoba membantu. Nampaknya pilot memanggil Mirko. “Apa yang kamu lakukan tadi?”, tanya Marina cemas. Mirko mengangkat bahu, merasa tidak melakukan kesalahan apapun juga. Mirko mengikuti pramugari dan tak pernah kembali selama perjalanan. Tentu saja Marina kebingungan. Ia bertanya pada setiap pramugari yang lewat namun semuanya hanya senyum-senyum tanpa memberi jawaban yang jelas.

Sesudah pesawat mendarat, Mirko muncul sambil cengar-cengir gembira. Rupanya, pak Pilot yang baik hati itu mengundang Mirko untuk duduk di dalam cockpit selama perjalanan…..

Di Ujungpandang Marina memiliki pengalaman lain yang tak terlupakan. Mereka bertemu seorang laki-laki ramah, berusia sekitar 40 tahun. Lelaki ini menawarkan diri untuk mengantar-antar. Marina dan Mirko menyambutnya dengan gembira. Pada beberapa tempat yang indah, mereka berfoto bersama. Tak ketinggalan, lelaki ini juga selalu minta ikut difoto. Setiap kali berfoto, tangannya memeluk Marina. Bagi Marina, orang Italia, hal ini tentu saja tidak menjadi masalah. Ia menganggapnya sebagai tanda keakraban. Hanya, ia memang sedikit heran. Karena, makin sering difoto, lelaki itu makin erat memeluknya.

Suatu saat, ketika Mirko berdiri agak jauh, lelaki nekad ini bertanya: “Mau jadi istri saya?”. Tentu saja Marina terkejut sekali mendapat pertanyaan tersebut. Dengan sabar Marina menjelaskan, sambil menunjuk Mirko, bahwa ia sudah bersuami. Dengan tenang pula laki-laki tak tahu malu ini berkata, bahwa itu bisa diatur. “Saya juga sudah punya 2 istri. Asal kamu mau, kamu akan saya jadikan istri yang ketiga. Saya berjanji kamu akan menjadi istri saya yang istimewa…….!”

Heri Kartono.

Jumat, 04 September 2009

Rob Stigter OSC





ANTARA GUNUNG DAN ANJING!

Pastor Robert Stigter OSC adalah sosok yang gemar naik gunung. Dimanapun dia bertugas, pasti akan menyempatkan diri untuk mendaki gunung, bersama orang lain atau sendirian. Gunung Ciremai, Tampomas, Merbabu, Sumbing dan Sindoro pernah ia taklukkan. Bahkan Gunung Ciremai pernah beberapa kali ia daki, maklum dekat dari Cirebon, tempatnya berkarya di masa lalu.

Saat bertugas di Kongo, Afrika, ia tidak hanya merambah gunung tapi juga mulai gemar berjalan kaki menerabas hutan belantara. Sebagai pendaki gunung yang handal, Rob memiliki stamina yang amat baik. Glen Lewandowski, pimpinan kami, pernah diajak berjalan kaki melewati hutan dan ladang (awal 2009). Lebih dari 8 jam mereka berjalan kaki. Sesudahnya Glen mengatakan “kapok” karena kelelahan luar biasa, sementara Rob tetap bersemangat.

Saya sendiri pernah mengalami hal yang mirip. Waktu itu, bersama kawan saya romo Kushardjono dan romo Sukarna ikut naik gunung di perbatasan Austria dan Jerman (1988). Semua barang dibawa oleh pastor Rob dalam ransel besar, digendong di punggungnya. Kami yang jauh lebih muda tidak membawa apapun juga. Setelah setengah hari berjalan, kami semua kelelahan setengah mati dan nyaris menyerah. Sementara itu, Rob dengan bebannya tetap segar bugar. Semula kami merasa gengsi untuk mengatakan lelah. Namun, akhirnya kami menyerah juga, minta istirahat dengan alasan ingin menikmati panorama yang bagus……

Selain gemar naik gunung, Rob dikenal sebagai pencinta binatang. Nampaknya binatangpun, terutama anjing dan kucing, amat mencintainya. Saat di Kongo, Rob memiliki 6 ekor anjing dan beberapa ekor kucing. Konon, Rob sering memilih tidur di kursi malas lantaran tempat tidurnya sudah “dikuasai” lebih dahulu oleh anjing-anjing dan kucingnya..

Rob Stigter, kelahiran Belanda, 70 tahun yang lalu, pernah bertugas di banyak tempat: Indonesia, Amerika Serikat, Roma-Italia dan Kongo, Afrika. Karenanya, tidak heran bahwa ia menguasai pelbagai bahasa dengan fasihnya: bahasa Belanda, Inggris, Italia, Perancis, Indonesia dan tentu saja bahasa Cirebon….Kini, setelah 17 tahun bekerja di Kongo (1991-2009), ia memilih kembali ke Indonesia. Ia memang tercatat sebagai Warga Negara Indonesia.

Dalam usianya yang tidak muda lagi, Rob amat antusias untuk memulai tugasnya yang baru di paroki Pandu, Bandung. Saat ditanya soal hobi naik gunungnya itu, Rob menjawab ringan: “Yah…sekarang mendaki bukit-bukit sajalah, sesuai usia!”. Rob Stigter memang pendaki gunung sejati, namun ia juga tahu benar keterbatasannya sebagaimana ia juga tahu keterbatasan hidup. (Foto: Pst.Rob dengan anjing, dari Rosiany).

Heri Kartono.