BEBAS LIMA
Bertugas di Cirebon memang berbeda dengan di Roma, Italia. Suasana, bahasa, makanan dan pola kerja juga lain sekali. Sejak Jumat (02/10/09) saya mulai bertugas di paroki Santo Yusuf, Cirebon dan saya menikmatinya.
Atas beberapa pertimbangan, saya memilih sepeda sebagai alat transportasi. Saya membeli sepeda ditemani Santi, istrinya Kardjono, mantan frater OSC. Papanya Santi mempunyai bengkel dan toko onderdil sepeda di jalan Lemahwungkuk. Karenanya, Santi tahu betul seluk-beluk sepeda, termasuk harga sepeda. Berkat Santi pula saya mendapat sepeda bagus dengan harga miring.
Hari Senin (05/10) saya mulai mencoba sepeda baru. Saya berangkat dari pastoran di Jalan Yos Sudarso 20 menuju jalan Pancuran, rumah kakak perempuan saya. Sesudah lama tidak naik sepeda, rasanya senang sekali. Saya langsung menyadari, betapa naik sepeda itu bebas polusi. Tidak ada asap busuk yang dikeluarkan, kecuali sekali-kali dari pengendaranya.
Di jalan Karanggetas ternyata jalan satu arah. Kalau saya mengambil jalan yang seharusnya, saya akan berputar lumayan jauh. Dengan sedikit nekad, saya masuk jalan Karanggetas, melawan arus. Polisi yang berdiri di gardu perempatan jalan nampaknya tidak peduli, bahkan melirik-pun tidak. Rupanya sepeda dianggap bebas rambu-rambu lalu-lintas.
Di jalan Siliwangi, saya mampir di Jogya Supermarket, membeli beberapa alat tulis. Tukang parkir, yang melihat saya masuk membawa sepeda, sedikitpun tidak memperdulikan. Ketika saya dengan tenang menaruh sepeda di antara deretan motor, barulah tukang parkir datang. Dengan sedikit kurang senang, tukang parkir menunjuk sudut tembok. Sayapun nurut, memarkir sepeda di tempat yang paling pojok. Selesai belanja, saya sudah menyiapkan uang parkir. Namun, tukang parkir sama sekali tidak menggubris. Rupanya untuk sepeda bebas parkir!
Sesudah puas berkeliling, sayapun kembali ke pastoran. Kemudian saya menyadari bahwa selama sekitar dua jam, saya tidak mengeluarkan uang satu sen-pun untuk transportasi. Sepeda memang bebas bahan bakar.
Menurut kabar burung, kalau kita rajin dan teratur bersepeda, kita juga akan bebas kolesterol. Meski ini belum dibuktikan, sekurangnya sudah menambah semangat saya untuk terus bersepeda.
Belum ada akibat negatif dari naik sepeda yang saya rasakan selain pantat sedikit lecet. Satu-satunya perubahan adalah porsi makan saya. Sejak naik sepeda, porsi makan saya bertambah satu piring!
Heri Kartono.









