Minggu, 13 Juni 2010

Frans Adbaw Pr


IMAM IDOL

Lebih dari 200 imam terpukau saat mendengarkan lagu Semua Baik yang dibawakan oleh pastor Frans Adbaw Pr. Imam berbadan subur ini membawakan lagu tersebut dengan sepenuh hati. Frans sendiri merupakan salah satu dari peserta retret para imam yang diadakan di Cimacan-Cipanas belum lama ini (07-11 Juni 2010). “Penampilan dan suaranya mirip Bob Tutupoli”, ujar pastor Marcus Santoso Pr.

Frans mengaku bahwa menyanyi baginya merupakan suatu bentuk pewartaan. “Saya mulai bernyanyi sesudah saya sembuh dari sakit. Ini merupakan ungkapan syukur dan terima kasih saya pada Tuhan”, ujar imam keuskupan Pangkalpinang ini. Frans memang pernah menderita sakit parah. Selama 3 bulan ia harus mendekam di Rumah Sakit. Frans juga sempat menjalani cuci darah. “Saat saya berada di ICCU, ada 9 pasien lain bersama saya. Semuanya meninggal dunia!”, paparnya. Tidak heran ketika Frans akhirnya sembuh, ia merasa amat bersyukur. Sesudahnya ia membentuk sebuah team pewartaan dan berkeliling ke pelbagai tempat. “Saya sempat berkeliling memberi kesaksian antara lain ke Lampung dan Semarang”, jelas imam kelahiran Tanjung Pinang ini.

Dalam retret para imam tersebut Frans termasuk satu di antara lima Imam Idol pilihan panitia. Kelima Imam Idol tersebut menunjukannya kebolehannya dalam bernyanyi satu demi satu, termasuk Frans. Usai Frans bernyanyi, Mgr.Ign.Suharyo Pr yang memimpin retret, didaulat untuk memberi penilaian. Dengan setengah berkelakar, Mgr.Suharyo memberi komentar: “Romo Frans yang mirip bayi sehat ini, suaranya memang hebat!”, ujar Uskup Koajitor disambut tawa semua yang hadir.

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 04 Juli 2010)

Minggu, 04 April 2010

Paskah 2010 (St.Helena)



HADIAHNYA KOK BARANG SECOND?

Minggu Paskah (04/04/2010) di paroki Santa Helena Lippo Karawaci berlangsung meriah. Selesai misa pagi, sebagian besar umat berkumpul di Aula paroki alias bedeng. Di bedeng ini berlangsung acara anak-anak Bina Iman. Sekitar 700 anak Bina Iman, gabungan bina iman seluruh wilayah paroki St.Helena berkumpul. Anak-anak ini didampingi para orang tua, sanak saudara dan mungkin juga para tetangga mereka…

Selain acara Bina Iman, di tempat yang sama juga berlangsung penarikan Kupon Berhadiah. Kupon yang biasa disebut sebagai “Tanda Terima Kasih” ini dikelola oleh Panitia P3G. Panitia ini memang sedang giat mencari dana untuk membangun gedung sarana penunjang kegiatan paroki. Dari kupon, panitia mengharapkan dapat terjual sekitar Rp 300 juta. Pada saat penarikan, kupon yang sudah terjual lebih dari Rp 425 juta. Tidak heran bahwa wajah panitia berseri-seri sejak pagi hari.

Ada macam-macam hadiah yang telah disediakan panitia. Nilai hadiah total sebesar Rp 60 juta. Hadiah utamanya sebuah Sepeda Motor merk Honda. Sebagian umat yang mengharapkan mendapat hadiah, sudah berkeliling sejak awal untuk melihat-lihat hadiah yang tersedia. Beberapa orang mengelilingi sebuah Sepeda Motor Merk Honda yang terbungkus kertas Koran. Pada stang motor tsb tergantung sebuah tulisan: HADIAH I. Seorang pengunjung berbisik kepada rekannya: “Hadiahnya kok barang second ya? Lihat tuh, body dan roda-rodanya juga kotor, belum dicuci!”, ujar pengunjung ini dengan nada tidak senang. Rekannya hanya menggeleng-gelengkan kepala, tidak mengerti bahwa panitia tega berbuat seperti itu. Ketika kerumunan makin bertambah banyak, tiba-tiba datang seorang bapak.: “Maaf, ini motor saya, bukan hadiah!”.

Rupanya pemilik motor Honda tsb adalah Pak Iwan Jatmika dari wilayah Medang. “Tadi malam saya lupa membawa SIM dan di jalan ada Razia. Jadi, motor saya titipkan di sini. Rupanya ada yang iseng, membungkus motor saya dan memberi tulisan: HADIAH I”, jelas pak Iwan tersipu-sipu….

(Catatan: Hadiah Utama berupa Sepeda Motor Honda dimenangkan oleh Rondang M dengan nomor Undian: 038829. Daftar lengkap pemenang diumumkan di papan pengumuman Gereja dan dalam Warta Helena. Dalam acara tadi, hadiah-hadiah memang belum ditampilkan. Foto: Panitia P3G di depan kupon-kupon yang hendak diundi).

Heri Kartono. OSC

Kamis, 01 April 2010

Jumat Agung



YESUS YANG GANTENG!

Ratusan umat menghadiri parayaan Jalan Salib pada hari Jumat Suci (02 April 2010). Acara yang dimulai pada jam 08.00 pagi itu diadakan di pelataran Gereja Paroki St.Helena, Lippo Karawaci. Bapak Iwan Jatmika dari Medang memimpin acara didampingi bapak Eugenius Laluur dari Sari Bumi. Sementara lektor dibawakan oleh Fransiska dan Alex.

Selama perjalanan dari perhentian satu ke perhentian lainnya, salib dipikul bergantian oleh sukarelawan. Panitia menyediakan dua buah salib. Tidak jelas apakah keduanya salib Yesus atau salah satunya salib penjahat. Yang pasti, kedua salib tersebut selalu ada yang memikulnya. Para sukarelawan tidak semuanya lelaki. Wanitapun ada yang merelakan diri ikut memikul salib.

Selesai acara, ibu pemikul salib datang ke Sakristi. Kepada bapak Eugene Laluur, ibu ini mengatakan bahwa ia melihat Yesus yang amat ganteng. “Saya melihat Yesus yang amat ganteng dan berwibawa saat saya memikul salib!”, ujar ibu ini dengan nada haru. Pak Eugenius mengangguk-angguk, mungkin bingung harus menjawab apa. Tidak jelas, siapakah yang dimaksud dengan Yesus yang ganteng itu. Hanya, saat ibu itu memikul salib, saya memang berdiri tepat di depan si ibu, sambil memotret dia……

Heri Kartono, OSC

Minggu, 28 Maret 2010

Paroki Santa Helena KAJ


BELUM MANDI!

Pekan Suci adalah saat-saat paling sibuk untuk Gereja Katolik. Demikian juga dengan paroki Santa Helena, Lippo Karawaci. Panitia khusus dibentuk untuk mengatur segala sesuatu agar berjalan dengan baik. Tahun ini panitia Paskah dipercayakan pada Wilayah Medang-Teratai. Keamanan, kenyamanan dan ketertiban selama Pekan Suci direncanakan dengan baik. Selama Pekan Suci, kehadiran umat memang meningkat tajam.

Pekan Suci dimulai dengan upacara Minggu Palma. Umat datang sambil membawa daun palma. Yang tidak sempat membawa daun, dapat meminta pada petugas atau diam-diam memetik sendiri dari halaman gereja. Pokoknya dengan daun-daun palma ini, suasana menjadi berbeda, lebih semarak. Romo Surono OSC memimpin dua kali Misa sementara romo Heri OSC kebagian satu Misa saja.

Hari Sabtu sore biasanya gereja tidak terlalu penuh. Kali ini hampir seluruh sudut gereja terisi. Romo Surono OSC memimpin upacara dengan semangat. Mungkin saking semangatnya, saat berkeliling mereciki daun-daun palma, alat percikan yang mirip pembersih WC itu terlepas. Pemercik yang masih penuh air itu terbang tinggi dan menimpa seorang umat. Tentu saja umat yang malang ini terkejut sekali. Sambil mengeringkan wajahnya yang basah, ia berbisik pada kawan di sebelahnya: “Jangan-jangan romo mengira saya belum mandi!!”.

Heri Kartono,OSC

Minggu, 14 Maret 2010

Putera Altar & Puteri Sakristi St.Helena Curug.


TERMEHEK-MEHEK

Paroki St.Helena, Lippo Karawaci, kendati kecil namun memiliki lebih dari seratus Putera Altar (PA) dan Puteri Sakristi (PS). Peranan mereka dalam acara liturgi di Gereja tergolong penting, antara lain ikut menyemarakkan suasana. Misa dan ibadat menjadi lebih lancar dan meriah karena kehadiran para remaja ini. PA dan PS ini didampingi oleh pak Titus, ibu Patricia, ibu Josephine dan ibu Yenny.

Setiap minggu PA dan PS memiliki kegiatan di sekitar gereja. Pada hari Minggu (14-03-2010), seusai Misa pagi, para PA dan PS berlatih, menyiapkan diri untuk acara Paskah mendatang. Mereka berlatih dengan gaya remaja jaman sekarang, banyak diselingi senda-gurau.

Sekitar jam 12.00, seusai latihan, terjadi keributan di teras Gereja. Vera, salah satu anggota Puteri Sakristi, terlihat dikelilingi para pengurus PS dan dicaci-maki. Vera dianggap tidak menjalankan tugas dengan baik. Christy, ketua Puteri Sakristi, dengan suara keras dan wajah galak mengadili Vera. Beberapa pengurus PS ikut juga nimbrung menyalahkan Vera yang malang. Anggota PS yang lain, juga anggota PA ikut menonton dari jarak sekitar 10 meter.

Semakin lama suasana makin panas. Suara para pengurus PS makin tinggi dan cacian makin gencar. Verapun makin tertunduk lesu. Semula ia berusaha keras untuk tidak menangis, karena malu ditonton kawan-kawan yang lain. Namun akhirnya pertahanan Vera jebol juga. Vera mulai berlinangan air mata. Sejurus kemudian, Verapun menangis termehek-mehek.

Saya yang kebetulan lewat dan ikut menyaksikan adegan tsb tidak sampai hati. “Mustinya kelompok di lingkungan Gereja tidak boleh sekejam ini!”, pikir saya. Pada saat saya berniat untuk mencari Romo Surono, OSC (pastor pendamping PA/PS), tiba-tiba terjadi kegaduhan baru. Seorang Putera Altar yang membawa ember besar, menyiram Vera dari belakang. Pada saat yang sama semua bertepuk tangan sambil bernyanyi: “Happy Birthday....”. Rupanya hari itu Vera berulang tahun. Kawan-kawan merayakannya dengan cara istimewa! Vera yang basah kuyup terlihat masih menangis, namun ia juga sudah mulai bisa tertawa lebar karena mendapat ciuman mesra dari semua kawan-kawannya (Foto: Vera, kaos hijau, menangis sambil tertawa lebar..)

Heri Kartono,OSC

Rabu, 10 Maret 2010

Prodiakon Paroki St.Helena


SANDAL PRODIAKON…!

Para Prodiakon paroki St.Helena Lippo Karawaci beserta anak-istrinya berkumpul bersama di Padepokan Bukit Kehidupan, Bogor (26-27 Februari 2010). Semuanya berjumlah 52 orang. Acara utama adalah pembekalan yang dipandu oleh Rm. Hardo Suyatno MSF. Romo yang berbadan subur ini rupanya pandai juga melawak. Karenanya acara pembekalan terasa menyenangkan. Yang mengagumkan, Romo Hardo hafal seluruh ayat-ayat Kitab Suci yang diperlukan tanpa satu kalipun melihat catatan. Padahal, ayat Kitab Suci yang ia berikan lumayan banyak jumlahnya…

Selama para bapak dan ibu menyimak wejangan Rm.Hardo, anak-anak sibuk bermain dan belajar dibawah bimbingan ibu Margareth yang berprofesi sebagai guru. Dengan demikian bapak, ibu dan anak-anak semuanya mendapatkan sesuatu dari pertemuan dua hari tsb.

Saat pulang, sejumlah ibu mengajukan usul agar diberi waktu untuk belanja. “Supaya ada oleh-oleh yang bisa dibawa pulang!”, ujar ibu Iwan memberi alasan. Pak Benny Sugiarto yang bertugas sebagai koordinator, akhirnya mengalah. “Jangan lupa, waktunya hanya lima-belas menit. Kita memburu waktu!”, teriak pak Benny dengan mikrofon yang selalu dibawanya.

Rupanya yang berbelanja tidak hanya para ibu, bapak-bapak dan anak-anak juga tidak ketinggalan. Pak Yanuar yang semula tidak bermaksud belanja, akhirnya tertarik juga ketika melihat sandal bagus dengan harga miring. Saat ia asyik menawar, terdengar suara pak Benny dari atas Bus: “Ayo….masuk, waktunya sudah habis!”. Pak Yanuar, karena takut tertinggal Bus, langsung membeli sandal tsb.

Pada waktu Bus sudah berjalan, orang-orang saling menceriterakan apa yang dibelinya. Pak Yanuar yang merasa beruntung, juga berceritera dengan semangat pada istrinya. Sang istri memang duduk di sebelahnya. “Bisa saya lihat sandalnya pak?”, ujar sang istri panasaran. Dengan bangga, pak Yan mengeluarkan sandal barunya itu. Namun, ketika sandal itu dibukanya, pak Yan maupun istrinya terkejut sekali. Ternyata sandal itu……dua-duanya sebelah kiri!! Kontan seisi Bus tertawa terpingkal-pingkal ketika mengetahui sandal antik kebanggaan pak Yan itu!

Heri Kartono, OSC (Foto: Prodiakon Iwan bersama istri dan anak-anaknya. Foto koleksi Pak Beni Sugiarto).