ASYIKNYA NGGOWES BECAK!
Dalam rangka setahun meninggalnya kakak perempuan, kami berkumpul di rumah kakak di Cirebon. Saudara-saudara dari Brebes, Bandung dan Jakarta datang semua, termasuk anak-anak mereka. Anak-anak ini ada yang memanggil saya Oom Romo, Pakde dan Mbah Romo. Berhubung acara jatuh pada hari Minggu, kami hanya mengadakan ibadat Rosario saja bersama lingkungan.
Minggu siang, sepulang dari Gereja, acara santai. Sebagian dari kami duduk-duduk ngobrol sambil menikmati aneka macam jajanan yang disediakan “panitia”. Titis, Colleta dan Amel bermain-main di atas becak di halaman rumah. Becak ini milik pak Koding, langganan almarhum kakak. Pak Koding kerap diminta bantuannya membersihkan kebun, mengecat pagar atau apapun. “Pakde, jalan-jalan dong!”, teriak Titis memanggil saya. Seumur hidup belum pernah saya mengemudikan becak. Saya coba-coba, ternyata mudah, minimal tidak membuat saya jatuh. Sayapun mulai menggowes becak sementara Titis, Colleta dan Amel tak henti-hentinya berteriak-teriak kegirangan.
Becak saya bawa kearah stasiun Kereta Api. Maklum, rumah kakak berada persis di balik tembok Stasiun Kereta Api Cirebon. Dahulu almarhum kakak ipar bekerja di PJKA Cirebon. Bambang, ayah Titis, melihat saya membawa becak, langsung mengambil kamera dan berlari-lari mengejar untuk memotret. Mas Bambang ini kameramen RCTI. Meski sudah pensiun, hobby serta naluri memotretnya masih tetap besar. Berkali-kali mas Bambang memotret kami dari pelbagai sudut. Tidak jelas siapa yang lebih bergaya, penumpang atau tukang becaknya!
Menggenjot becak ternyata tidak hanya memerlukan ketahanan fisik tapi juga ketahanan pantat. Pasalnya, becaknya si Koding ini sadelnya keras sekali, hanya sepotong kayu dibalut kain. Meski demikian, kegembiraan yang kami dapat memang tak terlupakan…
Heri Kartono








