
DICINTAI GURU
Pada hari Jumat (16 Juli 2010) sekitar jam 14.15, Christina Trisnawati dipanggil Tuhan. Sebelumnya, selama beberapa hari, ia dirawat di Ruang ICU Rumah Sakit Gunung Jati, Cirebon. Trisnawati dikebumikan di pekuburan Kristen Sunyaragi. Makamnya berdampingan dengan adik bungsunya yang meninggal saat dilahirkan.
Christina Trisnawati atau mbak Tris adalah kakak saya yang kedua. Kami delapan bersaudara. Sejak suaminya, Johanes Ruslan, meninggal dunia (17 Agustus 1999) keseimbangan mbak Tris sering terganggu. Semangat hidupnya merosot tajam dan sering kejang-kejang hingga menjelang kematiannya kemarin.
Mbak Tris adalah seorang kakak yang sederhana. Di antara kami, dialah yang paling pandai berceritera. Ia tidak hanya pandai berceritera namun juga menirukan dengan persis orang yang diceriterakannya. Ceriteranya selalu mengundang tawa kami.
Keahlian mbak Tris yang paling menyolok adalah memasak. Saya paling suka masakan mbak Tris. Waktu saya beberapa bulan tinggal di paroki Cirebon, saya sering datang ke rumahnya khusus untuk makan. Sayur Lodeh, sambal terasi dan udang goreng buatan mbak Tris, untuk saya, tak ada duanya. Oya, mbak Tris tidak suka makan daging. Sejak kecil ia tak pernah makan daging apapun. Namun ia bisa memasak daging apa saja dengan enak tanpa dia mencicipinya. (Saya pernah sengaja membeli roti yang berisi daging ayam di dalamnya. Saya berikan ke mbak Tris. Sesudah dimakan beberapa gigitan, mbak Tris berhenti dan tidak meneruskan memakannya. Kami semua tertawa namun mbak Tris hanya senyum-senyum saja, tanpa komentar apapun!)
Waktu remaja, mbak Tris sangat suka olah raga. Ia menjadi andalan SMP Santo Thomas (Ciledug-Cirebon) dalam lomba Balap Sepeda dan Bola Volley. Di Sekolah, mbak Tris sangat dicintai guru-gurunya. Mbak Tris begitu dicintai guru-guru sampai dua kali harus tinggal kelas!
Dalam soal pelajaran, mbak Tris memang serba pas-pasan. Cara berfikirnyapun sederhana. Namun dalam soal iman, ia memiliki keyakinan kuat. Ia juga selalu berdoa secara teratur. Setiap jam 6.00 sore ia selalu masuk kamar untuk berdoa Angelus dan Rosario. Biasanya ia tidak mau diganggu pada jam tersebut. Selain itu, kesetiaan kepada suaminya luar biasa. Bertahun-tahun ia melayani suaminya dengan rajin: bangun pagi-pagi, menyediakan makanan, menemani makan dan kalau suami sudah berangkat ke kantor, ia mengurus rumah, anak-anak dan menyiapkan makan siang. Itulah dunianya dari hari ke hari.
Salah satu sifat yang patut dipuji dari mbak Tris adalah kejujurannya. Dalam soal ini, suaminya juga sama. Tidak heran bahwa suaminya selalu dipercaya mengurus keuangan di kantornya, PJKA hingga ajalnya.
Kini mbak Tris telah pergi. Kami yakin mbak Tris telah bahagia bersama bapa di Surga dan juga bersama mas Rus, suami yang amat dicintainya. Selamat jalan mbak Tris, Heri akan kehilangan sayur lodehnya!! (Terima kasih untuk Bu Rosiany T.Chandra atas fotonya)
Heri Kartono, OSC









